Minggu, 22 Januari 2012

PASI


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Pengertian PASI
Pengganti Air Susu Ibu adalah makanan bayi yang secara tunggal dapat memenuhi kebutuhan gizi bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi sampai berumur antara 4 dan 6 bulan.
a.    Kapan PASI boleh diberikan
Dalam keadaan bayi harus dipisahkan dari ibu, misalnya:
-       Ibu sakit keras/ menular
Dalam keadaaan demikian bayi dapat diberi pengganti air susu ibu sesuai petunjuk kesehatan. Susu kental manis tidak baik digunakan sebagai PASI.

b.    Cara memberikan PASI
-       Air yang digunakan untuk mengencerkan PASI adalah air yang sudah dimasak mendidih.
-       Peralatan yang digunakan untuk mengencerkan PASI sebaiknya dibilas dengan air panas mendidih.
-       Disamping pemberian PASI, berikan makanan pendamping ASI setelah berumur 4 bulan
-       Segera setelah ibu sembuh upayakan menyusui kembali
-       Untuk pemberian PASI sementara ibu sakit, usahakan tidak menggunakan botol dan dot, tapi gunakan gelas dan sendok agar bayi tidak bingung.
c.    Kerugian akibat pemberian PASI
1.    Bagi ibu
Tidak ekonomis dan praktis
2.    Bagi bayi
-   Bayi tidak memperoleh zat kekebalan yang ada pada ASI, dengan demikian dapat meningkatkan resiko infeksi.
-   Ancaman kekurangan gizi, apabila diberikan tidak sesuai dengan ketentuan petunjuk penggunaan PASI.
-   Ancaman kegemukan, apabila diberikan secara berlebihan
-   Lebih mudah terserang diare dan alergi
-   Pertumbuhan mulut, rahang dan gigi tidak baik
-   Mengurangi hubungan kasih sayang ibu dan anak yang dapat menghambat perkembangan mental selanjutnya.


PASI atau pengganti ASI diberikan berupa susu formula yang sesuai umur atau cocok dengan bayi, artinya susu yang bayi tersebut bisa menerima. Bila dengan susu formula anak tidak mau menerima sebaiknya diganti dan akan lebih baik sesuai petunjuk dokter anak. Bila dengan susu formula anak ada keluhan diare dan sebagainya perlu petunjuk dokter apakah bayi menderita intoleransi laktosa sehingga perlu diganti dengan susu kedele.
Kendala dalam pemberian susu botol dimulai dari botol susunya sendiri yang lebih sulit membersihkannya dan mudah tercemar bakteri ataupun kuman penyakit. Susu botol tidak mengandung zat kekebalan tubuh karena itu bayi/anak sering menderita sakit terutama diare. Dan, susu botol harganya mahal karena diproses dari susu sapi.
Bila ibu tidak bisa memberi ASI, upayakan memilih susu yang sesuai. Kebersihan botol susu harus dijaga dengan mensteril atau merebus dulu sebelum dipakai. Susu harus diberikan dengan kekentalan sesuai aturan dan jumlahnya sesuai umur. Bila susu terlalu kental bayi akan cepat haus. Pemberian susu yang kekentalan terus-menerus dan berlebihan akan membuat bayi kegemukan. Ini akan dibawa sampai besar. Kebanyakan susu juga akan mengganggu nafsu makan sehingga makanan tidak dihabiskan.
B.     Pengertian MP-ASI
Makanan pendamping ASI adalah makanan yang diberikan kepada bayi selain ASI setelah untuk memenuhi kebutuhan gizi, biasanya  MP-ASI diberikan setelah berumur 6 bulan tapi ada kalanya sudah diberikan pada bayi ketikaa berumur 4 bulan sampai 24 bulan, karena semasa itu produksi ASI makin menurun sehingga suplai zat gizi dan ASI tidak lagi memenuhi kebutuhan gizi anak yang semakin meningkat.
MP-ASI diberikan sebagai pelengkap ASI sangat membantu bayi dalam proses belajar makan dan kesempatan untuk menanamkan kebiasaan makan yang baik. Pemberian makanan pelengkap bertahap dan bervariasi dari sari buah, makanan lumat, makanan lembek dan makanan padat.
            Tujuan Pemberian MP-ASI adalah sebagai berikut :
1.      Melengkapi zat gizi yang kurang pada ASI
2.      Mengembangkan kemampuan bayi untuk menerima bermacam makanan dengan berbagai tekstur dan rasa
3.      Mengembangkan kemampuan bayi untuk mengunyah dan menelan
4.      Melakukan adaptasi terhadap makanan yang mengandung kalor energi yang tinggi

1.      Pola Pemberian MP-ASI
a.       Pola pemberian ASI/MP-ASI pada bayi 0-6 bulan
Dimulai dengan pemberian ASI segera mungkin setelah melahirkan apalagi kolostrum yang sangat bermanfaat untuk bayi. Kontak fisik dan hisapan bayi akan merangsang produksi ASI. ASI diberikan pada kedua payudara, kiri dan kanan secara bergantian, tiap kali sampai payudara kosong. Pemberian ASI 8-10 kali setiap hari termasuk pemberian pada malam hari sudah memenuhi gizi bayi.
b.      Pola pemberian ASI/MP-ASI pada bayi 6-9 bulan
Pemberian ASI diteruskan. Pemberian MP-ASI berbentuk lumat halus karena bayi sudah memiliki refleks mengunyah antara lain bubur susu, biskuit yang ditambahkan dengan air atau susu, pisang dan pepaya yang dilumatkan. Bayi diperkenalkan dengan nasi tim sering dan ditambahkan makanan yang lain yang lebih bervarisi. Mulai usia 8-9 bulan tim tidak lagi disaring tetapi dibuat dalam tekstur yang lebih kasar sesuai dengan pertumbuhan gigi bayi. Setiap kali memberikan MP-ASI perlu diberikan ASI telebih dahulu agar ASI dimanfaatkan seoptimal mungkin.
c.       Pola pemberian ASI/MP-ASI pada bayi usia 9-12 bulan
Pemberian ASI diteruskan. Bayi mulai diperkenalkan dengan makanan padat dalam bentuk makanan lembik (nasi tim bayi). Pada usia ini bayi sering memegang makanan sendiri maka dapat diberikan biskuit atau pisang. Bayi dapat diberikan makanan selingan paling sedikit 1 kali sehari dan makanan lembek sedikitnya 3 kali sehari. Perlu diperkenalkan makanan agar bayi terbiasa dengan makanan yang beraneka ragam.






2.      Bentuk MP-ASI
a.       Makanan lumat
Makanan lumat adalah semua makanan yang dimasak dan disajikan secara halus yang diberikan pertama kali pada bayi disamping ASI contohnya bubur tepung, bubur beras (encer), nasi pisang dilumatkan, ketupat dilumatkan dan sebagainya. Apabila makanan terdiri 1 atau 2 macam bahan makanan sebaiknya diaanjurkan untuk menambah bahan makanan ketiga kedalam makanan tersebut sehingga lengkap misalnya bubur tepung ditambah tempe dilumatkan dan sayuran hijau, nasi pisang sebelum ditambah ikan asin atau tahu.
b.      Makanan Lembek
Makanan lembek merupakan peralihan dari makanan lumat menjadi makanan orang dewasa dapat berupa bubur beras (padat), nasi lembik, ketupat dan lain-lain yang biasanya disertai dengan lauk pauk tertentu (tempe, tahu dan lain-lain)
3.      Pengaturan MP-ASI secara tepat dan benar
ASI betapapun baik mutunya sebagai makanan bayi berjumlah merupakan jaminan bahwa gizi baik yang selalu baik, kecuali ASI tersebut diberikan secara benar dan tepat. Baik makanan maupun pendamping haruslah mendekati mutu ASI, dalam arti dapat memberikan semua unsur gizi essensial yang diperlukan oleh bayi. Mutu protein makanan harus baik, dapat memenuhi kebutuhan akan berbagai asam amino essensial.
            Dengan memperhatikan mutu ASI yang tepat dan benar maka kemungkinan akan bayi mendapatkan penyakit tidak akan terjadi. MP-ASI mutu gizinya harus baik seperti susu sapi atau bersumber protein hewati dalam jumlah yang cukup. Penghentian pemberian ASI yang terlalu awal mungkin tidak akan membawa akibat berupa penurunan tingkat gizi. Makanan MP-ASI adalah makanan yang sangat terbuka akan berbagai kemungkinan kontaminasi, baik waktu membuatnya maupun menyimpannya.


4.      Resiko pemberian MP-ASI yang terlalu dini
Bayi belum siap untuk menerima semi padat kira-kira berumur 6 bulan dan makanan itu belum dirasakan perlu sepanjang bayi mendapatkan ASI yang cukup. Hal ini dapat mengakibatkan berbagai munculnya penyakit seperti gangguan menyusui, beban ginjal yang terlalu berat dan gangguan selera makan.
a.         Resiko jangka pendek
1.      Gangguan menyusui
Pengenalan makanan selain ASI secara dini akan menurunkan frekuensi dan intensitas pengisapan bayi, sehingga resiko akan terjadinya penurunan ASI semakin besar.
2.      Penurunan absorbsi besi dari ASI
Pengenalan serelia dan sayur-sayuran tertentu dapat mempengaruhi penyerapan zat besi dari ASI, walaupun konsentrasi zat besi dalam ASI rendah, tetapi lebih mudah.
3.      Penyakit diare
Resiko jangka pendek pada bayi yang mendapat makanan pendamping ASI terlalu dini adalah penyakit diare.
b.        Resiko jangka panjang
Beberapa resiko jangka panjang pemberian MP-ASI sejaak dini adalah :
1.      Obesitas
Pemberian makanan pada bayi sejak usia dini dapat mengekibatkan kegemukan pada bayi. Bayi yang mendapat ASI tampaknya dapat mengatur masukan konsumsi sehingga konsumsi mereka dapat disesuaikan dengan kebutuhannya.



2.      Beban ginjal yang berlebihan
Makanan padat banyak yang mengandung kadar Natrium clorida (NaCl) yang tinggi yang akan menambah beban bagi ginjal . beban tersebut masih ditambah oleh makanan pendamping lainnya yang mengandung daging.
3.      Arteriosklerosis
Peranan faktor dalam patogenesis dan penyakit jantung ischemic tidak dipungkiri lagi. Faktor nutrisi yang terlibat antara lain : diit yang mengandung tinggi energi atau kalori dan kaya akan kolesterol serta lemak-lemak jenuh sebaiknya kandungan lemak tak jenuh yang rendah.
4.      Alergi terhadap makanan
Belum matangnya sistem kekebalan usus pada umur dini, akan menyebabkan banyak terjadinya alergi terhadap makanan pada masa kanak-kanan. ASI dapat menularkan penyebab-penyebab alergi dalam jumlah yang cukup banyak untuk menyebabkan gejala-gejala klinis tetapi pemberian susu sapi atau makanan pendamping yang dini menambah terjadinya alergi terhadap makanan.
5.         Perlakuan salah pada pemberian makanan pendamping
·      Memberikan makanan pralaktat sebelum ASI keluar. Makanan pralaktat adalah jenis makanan seperti air kelapa, air tajin, madu, pisang, yang sudah diberikan pada bayi baru lahir.
·      Membuang kolostrum. Masih banyak ibu-ibu yang tidak memanfaatkan optimal ASI-nya sehingga ASI yang dikonsumsi tidak cukup. Kombinasi pemberian ASI dengan pemberian makanan pendamping ASI yang tidak tepat dalam kualitas dan kuantitas dapat menyebabkan bayi menderita kurang gizi.
·      Penggunaan hanya satu payudara. Menyusui hanya dari satu payudara berarti tidak memanfaatkan ASI secara optimal sehingga ASI yang dikonsumsi tidak cukup. Kombinasi pemberian ASI dengan pemberian makanan pendamping ASI yang tidak tepat dalam kualitas dan kuantitas dapat menyebabkan bayi menderita kurang gizi.



·      Pemberian makanan pendamping terlalu dini atau terlambat. Pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini menurunkan konsumsi ASI dan menimbulkan gangguan pencernaan/ diare. Sedang bila terlambat bisa menyebabkan bayi kurang gizi. 
6.    Cara pemberian makanan pendamping
·      pertama, berikan dalam bentuk cair dan bertahap menjadi lebih kental.
·      Kedua, bila bayi tidak mau jangan dipaksa tetapi bisa diganti jenis lainnya dan pada kesempatan lain bisa diulang pemberiannya.
·      Ketiga, jangan memberikan makanan pendamping dekat dengan waktu menyusui.
·      Keempat, berikan makanan pendamping yang bervariasi supaya tidak bosan sekaligus memperkenalkan aneka jenis bahan makanan.
7.    Kecukupan makanan bayi usia empat bulan
Selama masa bayi, pengaturan makan perlu mengalami beberapa tahap perubahan yang disebabkan oleh peningkatan rekuiremen dan perkembangan kemampuan bayi untuk menerima dan mencerna makanan.
Bayi disusukan sedini mungkin, kalo bisa langsung setelah melahirkan. Program Inisiasi Menyusui Dini atau disingkat dengan IMD juga mulai marak di lakukan di beberapa rumah sakit. Waktu dan lama menyusui disesuaikan dengan kebutuhan bayi.
Makanan pendamping ASI atau bisa disebut MP-ASI adalah makanan yang diberikan kepada bayi selain ASI, dimana jenis dan karakter dari makanan tersebut disesuaikan dengan umur bayi. Makanan ini pada usia terdimana bayi memerlukannya di usia
·      Bayi 0 – 6 Bulan
Bayi usia 0-6 bulan sebenarnya tidak memerlukan makanan pendamping, dengan ASI saja sudah mencukupi. ASI ekslusif dewasa ini disarankan memang sampai dengan bayi usia 6 bulan. Namun bila kebutuhan ASI tidak mencukupi, atau ada hal tertentu yang menyangkut kondisi sang ibu seperti tidak keluarnya ASI, pemberian makanan penunjang bisa dilakukan.


Pada usia 3-4 bulan, bayi bisa diberikan buah-buahan seperti pisang dan air jeruk manis. Pemberian bubur susu (makanan lumat sampai lembik) disesuaikan dengan keperluan masing-masing bayi. Makanan padat bayi pertama ini (bubur susu) dapat dibuat dari tepung seperti tepung beras, jagung atau havermouth dengan ditambahkan susu dan gula. Pemberian bubur susu dan buah-buahan 1x sehari.
Usia sebelum 4 bulan ini dapat pula mulai diberikan telur ayam, tetapi harus waspada kemungkinan alergi dengan gejala urtikaria. Bila terjadi alergi, pemberian telur ditangguhkan. Biasanya bayi sudah tahan telur pada usia 7 bulan ke atas.
Untuk pemberian makanan lumat bisa memilih waktu yang sesuai misalkan sekitar jam 09.00 dengan memperhatikan bahwa kira-kira 2 jam sebelumnya tidak diberi apa-apa. Pada bayi usia 5-6 bulan dapat diberikan 2x bubur susu sehari, buah-buahan dan juga telur.
·      Bayi 6 – 8 Bulan
Bayi dapat mulai diberi nasi tim yang merupakan makanan lunak dan makanan campuran yang lengap karena dapat dibuat dari beras, bahan makanan sumber protein hewani (hati, daging cincang, telur atau tepung ikan) dan makanan sumber protein nabati seperti tahu, tempe, sayuran hijau (bayam), buah tomat dan wortel. Sehingga nasi tim ini merupakan makanan yang mengandung nutrien lengkap. Selama bayi, pemberian nasi tim ini harus disaring terlebih dahulu untuk memudahkan menelannya dan tidak mempersulit atau memperberat pencernaan.
·      Bayi 8 – 12 Bulan
Bubur susu sudah dapat diganti seluruhnya dengan nasi tim, yaitu pada pagi hari sebagai makan pagi misalnya sekitar jam 09.00. Siang hari sekitar jam 13.00 sebagai makan siang dan sore hari sekitar jam 17.00 – 18.00 sebagai makan malam.
Bila bayi disusui lebih dari 1 tahun, harus diperhatikan kemungkinan timbulnya anoreksia (berkurangnya atau hilangnya napsu makan) terhadap makanan lain sehingga anak bisa kekurangan protein dan kalori yang akhirnya menderita penyakit malnutrisi energi protein.


8.    Makanan Buatan dan Susu Formula
Memberikan makanan buatan hanya dibenarkan bila menyusui tidak dapat dilaksanakan, misalnya produksi ASI tidak ada atau sangat kurang. Susu formula sebagai pengganti ASI kebanyakan dibuat dari susu sapi. Hampir semua tersedia dalam bentuk bubuk dan hanya memerlukan pengenceran dengan air matang sebelum disajikan. Pengganti ASI (PASI) ini dapat dikelompokan berbagai macam baik menurut rasa, menurut Ph cairan, kadar nutrien, bahan utama protein, maksud penggunaan maupun menurur komposisi nutriennya.
Bila bayi tidak menghabiskan hidangan yang disediakan, mungkin bayi telah cukup mendapatkan pengganti ASI dan sebaliknya bila menghabiskan hidangan yang disediakan mungkin juga masih kurang sehingga hidangan selanjutnya perlu diperbanyak terutama jika bayi masih menangis atau belum puas.
Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang ideal harus mengandung: (1) makanan pokok (yang paling banyak dikonsumsi oleh keluarga, biasanya makanan yang mengandung tepung seperti beras, gandum, kentang dan tepung maizena) ditambah dengan bahan lain seperti (2) kacang, sayuran berdaun hijau atau kuning, (3) buah, (4) daging hewan dan (5) minyak atau lemak. Bahan ini dibuat menjadi bubur. Makanan pokok direbus di dalam air atau susu sampai menjadi bubur yang kental dan tidak terlalu cair, kemudian diperkaya dengan sedikit minyak atau lemak.
Untuk memudahkan penyiapan MP-ASI, bahan makanan sebaiknya dipilih yang mudah didapat (banyak tersedia di kebun keluarga atau di pasar terdekat), harganya murah dan paling sering dimakan (merupakan bagian dari apa yang dimakan oleh anggota keluarga yang lebih besar atau dewasa) dan sebaiknya diramu dengan resep lokal.
Campuran MP-ASI yang terdiri dari dua jenis bahan makanan disebut campuran sederhana, sementara yang terdiri dari tiga atau empat jenis bahan makanan disebut campuran majemuk. Campuran majemuk mungkin terlalu mahal untuk beberapa keluarga. Namun tidak terlalu penting untuk mengadakan golongan kacang dan hewan dalam satu campuran. Jika bayi sudah dapat memakan makanan yang dibuat dari dua bahan, tentu saja dalam berbagai variasi campuran, atau setidaknya dua jenis dari campuran tiga bahan, makanan tersebut sudah sebaik campuran empat bahan.

Jika minyak atau lemak tidak tersedia, ke dalam setiap campuran makanan dapat ditambahkan madu. Bagaimanapun minyak dan lemak jauh lebih baik karena disamping memasok energi juga dapat melunakkan dan melezatkan makanan. Jangan lupa memberikan buah-buahan atau sari buah pada setiap waktu makan atau sebagai makanan selingan di antara dua waktu makan.
MP-ASI baru boleh diberikan setelah bayi diberi ASI/Pengganti ASI (susu formula). Kemudian secara berangsur ASI/PASI dapat dapat berubah fungsi sebagai makanan pendamping dan makanan sapihan menjadi makanan utama.
Pemberian pertama cukup dua kali sehari, satu atau dua sendok teh penuh. Kebutuhan bayi akan meningkat seiring dengan tumbuh kembangnya. Jika bayi telah menggemari makanan baru tersebut, ia akan mengonsumsi 3-6 sendok besar penuh setiap kali makan. Namun jangan lupa bahwa bayi tetap membutuhkan ASI/PASI. Pada umur 6-9 bulan, setidaknya bayi membutuhkan empat porsi makanan. Jika dengan takaran tersebut bayi masih kelaparan, beri makanan selingan seperti pisang atau biskuit. Buah-buahan merupakan makanan selingan yang sempurna. Bayi memerlukan sesuatu untuk dimakan setiap dua jam begitu ia terbangun.
Menginjak umur 9 bulan bayi telah mempunyai gigi dan sudah mulai pandai mengunyah kepingan makanan. Sekitar umur setahun bayi sudah mampu memakan makanan orang dewasa. Pada saat itu ia makan (mungkin) empat sampai lima kali sehari. Anak umur 2 tahun memerlukan makanan separuh makanan orang dewasa.
Saat ini MP-ASI instan dapat kita temukan dengan mudah dalam bentuk instan di pasaran. Sebagian besar bubur susu yang beredar di Indonesia sudah dimasak terlebih dahulu dan dikeringkan sebagai bubuk. Jika diperlukan, cukup seduh dengan air panas sesuai petunjuk penggunaan maka bubur tersebut siap dihidangkan. Biasanya diperlukan sekitar 40 g bubuk tiap kali pemberian untuk mencapai energi sebanyak 160-170 kkal.




9.        Makanan yang perlu dihindari di awal pengenalan MPASI
Makanan yang perlu dihindari adalah Susu sapi/kambing, Dairy products (seperti yogurt, keju, dsbnya) Telur Makanan yang mengandung gluten seperti gandum, rye, barley dan oat Madu Kerangkerangan dan ikan Makanan pedas Kacang-kacangan (kacang tanah, almond. dsbnya) Daging/ikan asap Garam Gula Buah beraroma tajam / Citrus fruits (spt. strawberry, raspberry, lemon)
10.    Waktu pemberian MPASI
Pemberian MPASI merupakan waktu yang amat istimewa bagi si Kecil dan juga anda. Berikan di waktu yang nyaman untuk anak dan juga anda. Jika memungkinkan, berikanlah MPASI di waktu yang sama setiap harinya. Tujuannya agar terbentuk suatu pola atau kebiasaan. Sebelum anda mengenalkan MPASI, bayi terbiasa dengan pola menyusu yang teratur tanpa henti. Terkadang akan sangat mengganggunya, jika ia harus berhenti di sela-sela acara makannya sekarang. Untuk itu, berikanlah anak sedikit ASI / susu formula, sebelum memberikan MPASI. Sehingga ia tidak terlalu kelaparan yang sangat mungkin membuatnya marah atau frustasi.
Di hari-hari pertama pemberian MPASI, bayi biasanya hanya memerlukan sedikit makanan padat. Misalnya, 2 – 3 sendok kecil penuh. Dimulai dari 1 kali pemberian MPASI per hari. Misalkan saat makan siang. Kemudian dapat ditingkatkan menjadi 3 kali sehari (makan pagi, makan siang dan makan malam).
Yang perlu diingat, ukurlah selalu suhu dari makanan sebelum diberikan kepada si kecil. Dudukkan bayi anda di pangkuan atau di kursi makan bayi. Cobalah membuat acara makan menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan. Senyumlah selalu dan ekspresikan bagaimana senangnya acara makan. Jangan lupa ajaklah ia bicara saat anda menyuapinya. Ingat makan bagi anak adalah lebih dari sekedar acara pemenuhan nutrisi. Tetapi masa pembelajaran yang baik dan menyenangkan
11.    Apabila si Kecil menolak MPASI
Bukanlah suatu masalah besar jika si kecil menolak suapan anda. Cobalah berikan kembali MPASI beberapa hari setelahnya. Atau siapkan makanan saring (puree) yang lebih encer sehingga lebih memudahkan bayi anda untuk menelan. Terutama bagi bayi yang belum menguasai betul cara mengunyah dan menelan makanan. Anda juga dapat memulai dengan mencelupkan jari anda yang sudah bersih ke dalam makanan saring si bayi, kemudian biarkan bayi anda untuk menghisapnya dari jari anda. Hal ini dapat dilakukan di awal-awal masa pengenalan MPASI, karena beberapa bayi tidak suka merasakan sendok di mulutnya. Jika bayi anda hanya makan sedikit makanan padatnya, janganlah memaksanya untuk makan. Biasanya para bayi tahu persis kapan ia mereka merasa cukup kenyang.
12.     Suhu MPASI
Makanan yang akan diberikan kepada bayi harus dalam suhu ruangan atau hangat-hangat kuku. Ini penting, karena mulut bayi lebih sensitif terhadap suhu dibandingkan dengan orang dewasa. Apabila MPASI dipanaskan dengan microwave, panaskanlah hingga mendidih kemudian dinginkan terlebih dahulu. Aduk rata untuk mendinginkan makanan. Periksa kembali suhu makanan sebelum diberikan kepada si kecil.
·      Higienis
Harus menjaga benar kebersihan dalam menyiapkan MPASI dan tempat penyimpanannya. Hal ini disebabkan bayi sangat mudah keracunan makanan / food poisoning. Botol susu harus dicuci dengan bersih dan disteril, karena susu merupakan tempat ideal untuk berkembang biaknya bakteri. Begitu pula dengan dot, training cup harus disteril sampai dengan bayi anda berusia 1 tahun. Sendok makan bayi harus di sterilisasi sampai minimum bayi berusia 9 bulan. Akan tetapi, saat bayi mulai belajar merangkak dan memasukkan barang ke dalam mulutnya, sterilisasi piring makan, training cup dan sendok makannya sudahlah tidak terlalu penting, kecuali untuk botol susu dan dot.




                        BAB III
                      PENUTUP
3.1        Kesimpulan
MP-ASI diberikan sebagai pelengkap ASI sangat membantu bayi dalam proses belajar makan dan kesempatan untuk menanamkan kebiasaan makan yang baik. Pemberian makanan pelengkap bertahap dan bervariasi dari sari buah, makanan lumat, makanan lembek dan makanan padat.
3.2        Saran
Bila ibu tidak bisa memberi ASI, upayakan memilih susu yang sesuai. Kebersihan botol susu harus dijaga dengan mensteril atau merebus dulu sebelum dipakai. Susu harus diberikan dengan kekentalan sesuai aturan dan jumlahnya sesuai umur. Bila susu terlalu kental bayi akan cepat haus. Pemberian susu yang kekentalan terus-menerus dan berlebihan akan membuat bayi kegemukan. Ini akan dibawa sampai besar. Kebanyakan susu juga akan mengganggu nafsu makan sehingga makanan tidak dihabiskan.












DAFTAR PUSTAKA
Moehji,Sjahmien. 1992. Pemeliharaan Gizi Bayi dan Balita. Bharatara.
Mochtadi,Deday.1994. Gizi untuk Bayi. Sinar Harapan : Jakarta.
Moehji,Sjahmien.1992. Ilmu Gizi. Bhratara, Jakarta.
Roesli,U. 2005. Makanan Pengganti Air Susu Ibu. Jakarta : Puspawara
Saleha .2004. Makanan Pendamping Air Susu Ibu. Jakarta
http://botefilia .com/index.php/archives/2009/01/10/pasi/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar